Prasasti Mantiasih

Niat ingsun nebar gondo arum

Tyas manis kang man…tesi

Ruming wicoro kang mranani

Sinembuh laku utomo

Satyaningsun satya banyu

Dharmaningsun dharmo laku

minggu kemarin 29 april 2012 pukul 3 sore PBNJ bersama istri dan anak tercinta mengunjungi pameran magelang tempo doeloe, event tahun ini lebih rame, lebih kuno dan lebih heboh. sore itu acara penutupan pameran yang telah berlangsung 4 hari, kostum yang PBNJ harus bawa adalah peci, baju taqwa, sarung, sorban, dan tasbih.

kali ini bersama teman teater lagrangan bagian dari VOC Magelang menuju prasasti mantiasih yang merupakan tonggak atau acuan lahirnya kota magelang, namun prasasti ternyata tidak berada dilokasi akan tetapi berada di museum leiden belanda. yang ada hanya sebuah batu berceruk penuh air. mas andri topo kalla bendhu pemimpin ritual mengucapkan salam dan membaca mantra, kemudian menabur bunga lalu mengambil air dengan daun untuk dimasukkan ke dalam kendi.

disaksikan perwakilan dari 5 agama dan PBNJ mewakili agama Islam tentunya kami berjalan menuju alun-alun magelang diiringi beberapa arupa dan dentingan gong. sampai di 0 km magelang yang di tandai tugu jam kami berputar 3 kali dilanjutkan ke water toren, andri topo membaca mantar lagi dan mengucurkan air ke tangan para perwakilan agama untuk di siramkan ke water toren.

selanjutnya penyiraman diulang pada pohon beringin tua di tengah alun-alun. setelah selesai semua menuju main stage. satu persatu kardus yang menutupi wajah arupa dibuka dan dia mempersilahkan 5 wakil agama menorehkan cat ke wajah mereka. setelah semua wajah arupa warna-warni penuh coretan dia mempersilahkan pengunjung mengambil tempat cat dan bersama-sama menyiramkan ke wajahnya.

usai performance PBNJ langsung makan bersama istri dan meluncur pulang dengan sarung masih terpakai dan berkalung tasbih. sampai ketemu lagi event magelang tempo doeloe tahun depan.

berikut mantra yang di baca

Niat ingsun nebar gondo arum
(Maksud saya menebar harum wewangian = sebuah bentuk do’a dan harapan/pernyataan atas slogan pemerintah, “magelang kota sejuta bunga”, alangkah naifnya kalau yang tercium ternyata bau busuk)

Tyas manis kang man…tesi
(Berlandaskan perilaku/hati yang pantas = perilaku dan niatan hati yang pantas adalah mendarma baktikan hidup untuk harmonisasi semesta)

Ruming wicoro kang mranani
(Berbicara baik dan apa adanya = katakan ya diatas dan tidak diatas tidak, menjaga lidah dan tidak menghasut/berbohong dan berbicara yang tidak manfaat)

Sinembuh laku utomo
(Sambil menjalankan kewajiban utama hidup = melakukan kebaikan dan menumpas kelaliman)

Satyaningsun satya banyu
(Sumpahku laksana air = bisa menyejukkan, memberi kesegaran, memberi penghidupan, tetapi ada kalanya mematikan. Air tidak pernah berambisi naik, dia cenderung turun kebawah, harapannya menjadi orang yang bisa merangkul, mengayomi seperti filosofi air)

Dharmaningsun dharmo laku
(Kewajiban/dharmaku melewati semua proses yang harus dilewati = menjadi diri sendiri, berproses menjadi bagian dari harmoni semesta)

Pos ini dipublikasikan di performance. Tandai permalink.

8 Balasan ke Prasasti Mantiasih

  1. "ngelindur" berkata:

    😆

  2. kurniaprorider berkata:

    baru bisa ke Magelang tanggal 17 besuk, wis kangen Magelang. udarane uadem buanget, banyune koyo es, yen bobo kemule rangep-rangkep

  3. ndesoklutuk berkata:

    asal ojo dadi syrik pak bambang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s